Akomodasi AFF U-19 di Medan: Pembina PSMS Fans Club Serukan Rico Waas Fokus Temukan Solusi

MEDAN – Pembina PSMS Fans Club, Hendra M Sialoho, menekankan bahwa masalah pembiayaan akomodasi untuk peserta ASEAN U-19 Boys Championship 2026 di Medan seharusnya dapat dihindari jika komunikasi yang efektif terjalin antara PSSI, panitia lokal, dan Pemerintah Kota Medan sejak awal.
Kekurangan Koordinasi yang Menyebabkan Polemik
Hendra menyatakan bahwa perdebatan yang terjadi antara PSSI dan Pemko Medan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas biaya akomodasi tim dari negara seperti Timor Leste dan Filipina mencerminkan buruknya koordinasi di antara pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan.
“Ini menunjukkan bahwa komunikasi antara PSSI, panitia lokal, dan Pemko Medan tidak berjalan lancar. Yang terjadi adalah saling menyoroti kelemahan satu sama lain. Padahal, seharusnya mereka saling melengkapi dan berkolaborasi untuk menemukan solusi,” jelas Hendra.
Solusi Sebelum Turnamen Dimulai
Menurutnya, masalah ini seharusnya sudah dibahas dan diselesaikan jauh-jauh hari sebelum turnamen dimulai, bukan ketika pertandingan sudah berjalan dan menjadi sorotan publik.
“Jika sejak awal Pemko Medan merasa keberatan, seharusnya hal itu dibicarakan dari awal. PSSI bisa saja mempertimbangkan untuk memindahkan pertandingan ke daerah lain yang lebih siap di Sumut. Jangan sampai polemik ini muncul setelah event dimulai,” tambahnya.
Dampak Negatif bagi Masyarakat
Hendra mengingatkan bahwa dampak dari perseteruan ini tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh masyarakat Sumatera Utara yang berperan sebagai tuan rumah.
“Malunya bukan hanya pada Pemko Medan atau PSSI, tetapi juga pada masyarakat Sumut dan Indonesia secara keseluruhan. Ini adalah acara berskala ASEAN. Jika masalah sederhana seperti ini tidak bisa diselesaikan, bagaimana kita bisa dipercaya untuk menggelar acara yang lebih besar di tingkat Asia atau dunia?” ungkapnya.
Kesalahan dalam Persepsi Profesionalisme
Dia menegaskan bahwa negara-negara peserta mungkin akan pulang dengan kesan negatif mengenai profesionalisme dalam penyelenggaraan acara olahraga di Indonesia.
“Jangan sampai tim dari negara lain melihat kita tidak siap. Kesan yang akan terbentuk adalah bahwa PSSI dan panitia lokal tidak profesional dalam mempersiapkan turnamen internasional ini,” katanya.
Pentingnya Koordinasi Antara Pihak Terkait
Hendra berpendapat bahwa masalah ini sebenarnya dapat diselesaikan jika PSSI melakukan koordinasi awal dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora), yang kemudian dapat berkomunikasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk mencari solusi yang sesuai dengan regulasi.
“Masalah ini harusnya ditangani dengan bijak, bukan dengan saling menyalahkan. Kini, kesannya Pemko Medan berupaya berpegang pada aturan, sementara PSSI mengandalkan regulasi. Akibatnya, ego masing-masing pihak justru terlihat,” tambahnya.
Pernyataan Wali Kota yang Kontroversial
Ia juga menyoroti pernyataan Wali Kota Medan, Rico Waas, yang dinilai tidak perlu dipublikasikan secara terbuka melalui media.
“Menurut saya, Wali Kota Medan seharusnya tidak perlu mengumbar masalah ini di media. Lebih baik duduk bersama PSSI dan panitia lokal untuk mencari solusi terbaik. Ini menyangkut reputasi Kota Medan sebagai tuan rumah acara internasional. Jangan hanya ingin mendapatkan nama baik, tetapi saat diminta kontribusi justru muncul polemik,” ujarnya.
Atmosfer Turnamen yang Kurang Optimal
Lebih jauh, Hendra menilai bahwa panitia lokal belum maksimal dalam menciptakan atmosfer turnamen. Salah satu indikasi adalah kurangnya pelibatan kelompok suporter lokal untuk meningkatkan suasana pertandingan.
“Jika dibandingkan dengan Piala Dunia U-17 yang lalu, suasananya sangat berbeda. Saat itu stadion penuh dan atmosfernya luar biasa. Sekarang, suporter lokal tidak dilibatkan. Kami siap membantu menyukseskan acara ini,” tambahnya.
Contoh Ketidakramaiannya Pertandingan
Ia mengilustrasikan suasana saat Timnas Indonesia bertanding melawan Myanmar, yang menurutnya belum mencerminkan antusiasme yang besar dari masyarakat terhadap turnamen internasional.
“Anda bisa melihat sendiri saat pertandingan Indonesia melawan Myanmar. Stadion tidak seramai yang diharapkan. Tiket juga sulit diperoleh. Jika suporter dilibatkan sejak awal, suasana pertandingan pasti akan lebih meriah. Tidak mungkin panitia lokal tidak mengenal komunitas suporter di Medan. Akibatnya, ada kesan bahwa kita kurang siap menjadi tuan rumah,” pungkasnya.
