BeritaBupatiDoefriKabupaten 50 KotaKabupaten SolokLima Puluh Kota

Letkol Djoefri, Tokoh Terpercaya dari Solok Menjabat Bupati 50 Kota

Pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Lima Puluh Kota yang ke-185 yang berlangsung pada 13 April 2026, kita mengenang sosok penting dalam sejarah daerah tersebut. Letkol Djoefri, seorang tokoh yang lahir di Koto Baru, Solok, mengukir prestasi yang membanggakan dengan menjabat sebagai Bupati untuk periode 1985 hingga 1990. Kiprahnya sebagai pemimpin daerah menjadi salah satu momen bersejarah yang tak terlupakan di Luhak Nan Bungsu.

Profil Letkol Djoefri

Letkol Djoefri, yang lahir pada 5 April 1935, memulai karirnya di dunia militer sebagai anggota Tentara Zeni Angkatan Darat. Penunjukan beliau sebagai Bupati 50 Kota menandai akhir dari pengabdian formal beliau kepada bangsa dan negara, di mana beliau sudah mengantongi pangkat Letnan Kolonel (Letkol). Sebuah perjalanan yang penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Awal Karir Militer

Karir militer Letkol Djoefri dimulai di Komando Konstruksi (Kokon) di Pekanbaru pada tahun 1970. Beliau kemudian pindah kembali ke Padang untuk melanjutkan tugasnya dalam posisi yang sama. Perjalanan karirnya di dunia militer menunjukkan komitmen yang tinggi dan kemampuan untuk beradaptasi di berbagai lokasi.

Pendidikan dan Panggilan Tugas

Sebelum terjun ke dalam dunia militer, Djoefri sempat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, panggilan wajib militer yang mengharuskan beliau bertugas di Aceh pada tahun 1960-an memaksanya untuk meninggalkan bangku kuliah. Keputusan tersebut membawa beliau ke jalur yang berbeda, tetapi sangat berarti bagi pengabdian beliau kepada negara.

Kenaikan Jabatan

Sepanjang karirnya, Letkol Djoefri mengalami beberapa kali mutasi tugas, mulai dari Aceh, Padang, hingga Pekanbaru, dan kembali ke Padang. Karirnya semakin menanjak ketika beliau diangkat sebagai Kasdim 0307 Tanah Datar, sebelum akhirnya menjabat sebagai Dandim 0307 Tanah Datar dengan pangkat Letnan Kolonel.

Kontribusi di Tanah Datar

Setelah menjabat sebagai Dandim, Djoefri diberikan amanah untuk memimpin legislatif dengan menjadi Ketua DPRD Kabupaten Tanah Datar dari tahun 1981 hingga 1985. Dalam perannya tersebut, beliau turut berkontribusi dalam pendirian Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY), yang merupakan hasil kolaborasi antara para Bupati/Walikota serta Ketua DPRD di wilayah III Sumatera Barat. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi di kawasan tersebut, termasuk Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Sawahlunto, dan Kabupaten Sijunjung.

Hobi dan Kegiatan Sosial

Letkol Djoefri merupakan alumni dari SMA 1 Solok yang dikenal dengan kecintaannya pada kegiatan berburu babi dan pacuan kuda. Setelah pensiun, beliau menghabiskan waktu di tanah kelahirannya, Koto Baru Solok, dengan terlibat dalam berbagai organisasi masyarakat. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial mencerminkan kepeduliannya terhadap masyarakat lokal.

Warisan dan Kenangan

Letkol Djoefri meninggal dunia pada tahun 2007, meninggalkan jejak yang tak terlupakan di hati masyarakat 50 Kota. Prestasi dan dedikasinya sebagai pemimpin akan selalu dikenang, terutama dalam upaya memajukan daerah dan pendidikan di Sumatera Barat.

Pengaruh dalam Sejarah Daerah

Djoefri bukan hanya sekadar seorang Bupati, tetapi juga seorang pemimpin yang mampu menginspirasi generasi mendatang. Dengan beragam pengalaman yang dimilikinya, beliau mampu mengarahkan kebijakan yang menjawab tantangan zaman, termasuk dalam bidang pendidikan dan infrastruktur. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya didasarkan pada pangkat, tetapi juga pada komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Visi Masyarakat dan Pembangunan

Di bawah kepemimpinan Letkol Djoefri, visi pembangunan daerah menjadi lebih jelas. Beliau memahami pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mencapai tujuan bersama. Dengan pendekatan yang inklusif, beliau berhasil menciptakan ruang bagi partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.

  • Pendidikan tinggi menjadi prioritas utama dalam kebijakan Djoefri.
  • Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.
  • Pembangunan infrastruktur yang mendukung aksesibilitas.
  • Peningkatan kualitas hidup melalui program-program sosial.
  • Promosi budaya lokal sebagai bagian dari identitas daerah.

Legacy dan Penerusnya

Warisan yang ditinggalkan oleh Letkol Djoefri terus hidup di tengah masyarakat 50 Kota. Generasi penerus dapat belajar dari dedikasi dan semangatnya dalam mengabdi kepada masyarakat. Menyadari pentingnya kepemimpinan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, calon pemimpin di masa depan diharapkan dapat meneruskan perjuangan beliau dalam memajukan daerah.

Letkol Djoefri adalah contoh konkret dari seorang pemimpin yang tidak hanya memegang jabatan, tetapi juga berkomitmen untuk memajukan masyarakat. Pengalamannya dalam dunia militer dan politik memberikan pelajaran berharga tentang kepemimpinan yang efektif dan berintegritas.

Melalui catatan sejarah ini, kita diingatkan akan pentingnya peran seorang pemimpin dalam membentuk masa depan suatu daerah. Djoefri, dengan segala pencapaiannya, merupakan sosok yang layak dicontoh dan dihormati. Semangatnya untuk melayani masyarakat akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjalanan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Related Articles

Back to top button