Optimalisasi Kebersihan Pantai untuk Menyambut Ramadan: Realita Hidup Warga Kusik

Di suatu pagi yang cerah di Pantai Kusik, Anambas, suara sapu dan cangkul menggema di sepanjang pesisir. Tidak kurang dari 22 keluarga, yang sebagian besar adalah nelayan, bersatu untuk membersihkan lingkungan mereka, mulai dari rumah mereka, mushola, hingga garis pantai. Semua ini dilakukan dalam semangat gotong royong, sebuah tradisi kebersamaan yang terjaga sejak lama.
Memulai Hari dengan Gotong Royong
Seperti biasa, para ayah berkumpul, mengumpulkan kayu terapung dan sampah yang dibawa oleh ombak, sementara para ibu memungut dedaunan dan plastik yang tersebar di sekitar rumah mereka. Mereka juga memastikan bahwa mushola dan area sekitarnya bersih dan siap untuk digunakan, terutama dengan datangnya bulan suci Ramadan.
Kebersihan lingkungan ini bukan hanya rutinitas biasa, tetapi juga merupakan bagian dari persiapan mereka untuk menyambut Hari Peduli Sampah Nasional 2026 dan bulan Ramadan. Untuk warga pantai Kusik, gotong royong adalah lebih dari sekadar aktivitas sehari-hari. Ini merupakan bagian integral dari cara hidup mereka, sesuatu yang mereka jaga dan pertahankan setiap tahun.
Gotong Royong Menjelang Ramadan
Baharudin, Ketua RT 06 Desa Rewak, mengungkapkan bahwa gotong royong menjelang Ramadan telah menjadi agenda tahunan masyarakat. “Kami berharap dengan ini, lingkungan akan menjadi lebih bersih dan nyaman untuk beribadah,” katanya. Menurut surat dari pemerintah desa, kegiatan gotong royong dijadwalkan berlangsung pada 14-17 Februari 2026. Namun, melalui diskusi antar warga, mereka memutuskan untuk melaksanakannya pada hari Jumat, yang bertepatan dengan hari libur mereka.
Pengembangan Pantai Kusik
Di balik semangat kebersamaan ini, terdapat harapan untuk pengembangan Pantai Kusik, yang kini mulai ramai dikunjungi masyarakat dan wisatawan. Baharudin mengungkapkan bahwa sebelumnya, kawasan pantai tersebut telah ditandai dengan penempatan batu oleh bupati sebelumnya sebagai simbol awal pengembangan wisata. Namun, sampai saat ini, belum ada pembangunan berkelanjutan yang signifikan.
Fasilitas wisata di pantai ini masih sangat terbatas. Hanya ada satu gazebo yang masih dalam kondisi baik, sementara yang lainnya telah rusak. Selain itu, sebagian besar fasilitas yang tersedia di sekitar pantai dibangun oleh masyarakat sendiri.
- Internet juga menjadi perhatian warga. Mereka berharap tower yang mencakup tiga desa di Kecamatan Jemaja Barat dapat berfungsi lebih baik, seiring dengan meningkatnya kunjungan ke Pantai Kusik, yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata lokal.
- Di sisi lain, kebutuhan mendesak yang dirasakan warga saat ini adalah ketersediaan air bersih. Muhammad Said, tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan bahwa pasokan air sangat bergantung pada kondisi cuaca.
- “Ketika musim hujan, air cukup. Tetapi saat musim kemarau, kami harus menunggu beberapa hari sampai penampungan terisi penuh sebelum keran dapat dibuka. Kadang-kadang, kami masih menggunakan ember,” katanya.
Pembangunan Sumber Air Bersih
Muhammad menjelaskan bahwa akses air bersih awalnya diperoleh melalui program PNPM pada tahun 2004. Saat ini, pemerintah desa telah membangun bak penampungan air di wilayah Dapan, tetapi fasilitas tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Ketua RT 05 Dapan Desa Rewak membenarkan bahwa pembangunan bak air bersih telah dilakukan menggunakan Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025. Namun, pekerjaannya masih dilakukan secara bertahap dan menunggu pendanaan lanjutan.
Proyek peningkatan sumber air bersih di wilayah tersebut dibiayai melalui Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp217.662.918 dengan panjang pekerjaan 1.300 meter, sebagaimana tercantum pada papan informasi proyek.
Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) hanya bertindak sebagai pengawas teknis dan menyarankan untuk meminta konfirmasi lebih lanjut kepada pemerintah desa mengenai progres pekerjaan dan target penyelesaian.
Sejauh ini, Kepala Desa Rewak belum memberikan keterangan mengenai progres pembangunan bak air bersih, besaran realisasi anggaran, atau target penyelesaian pekerjaan.
Di tengah keterbatasan ini, warga terus berusaha dengan upaya mereka sendiri untuk membersihkan pantai, merawat mushola, dan menjaga lingkungan mereka. Gotong royong di Pantai Kusik menjadi cerminan bagaimana kepedulian masyarakat berjalan lebih dulu, sementara harapan terhadap penyediaan air bersih, pengembangan fasilitas wisata, dan perbaikan jaringan komunikasi masih menunggu perhatian dan penyelesaian yang nyata.
